Tampilkan postingan dengan label Satu Pertanyaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satu Pertanyaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2009

PELATIHAN KOMERSIL

Ada teman saya, yang sama-sama ngidam mau jadi penulis skenario film (TV mau pun bioskop, sama saja, yang penting menulis skenario!), curhat pada saya. Dia mengaku sebal setiap kali menemukan informasi mengenai workshop mau pun training penulisan skenario yang bayarannya selangit. Sebab, selain tidak mampu membayarnya (sepertinya ini alasan utama mengapa dia sebal), teman saya itu menganggap bahwa dalam menuntut ilmu, seseorang jangan dipersulit, termasuk dalam urusan biaya. Hm.... alasannya sama saja, sebenarnya. Bahkan, teman saya 'menuding', gara-gara biaya selangit itu, semakin sedikit orang yang bisa mengikuti pelatihan, sehingga semakin sedikit pula orang-orang yang dapat menulis skenario. Pada gilirannya, semakin sedikit pula karya-karya berkualitas yang dapat dihasilkan (sekalipun saya tidak tahu, apa makna dan batasan 'kualitas' yang dimaksud)....

Waktu itu saya mengamini meskipun tidak sampai menggebu-gebu seperti dia. Tapi, dalam hati saya ingin bertanya, "kalau bayarannya murah meriah, apa yakin bisa menyerap ilmu yang diinginkan?" Maksud saya, kalau sesuatu kita dapatkan dengan mudah (dan murah, dalam kasus ini), apakah kita akan menghargainya? Jangan-jangan malah seperti salah seorang sepupu saya yang bisa jadi tenaga honorer di sebuah instansi pemerintah atas bantuan keluarga yang kebetulan sudah menjadi pejabat di instansi tersebut. Hasilnya, sepupu saya itu malasnya minta ampun dalam urusan masuk kerja. Sebab, ya itu tadi, karena mendapatkan pekerjaan dengan sangat mudah, tanpa harus bersusah payah seperti pencari kerja lain. Bahwa kemudian sepupu saya itu akhirnya butuh waktu delapan tahun (lama juga, ya) untuk diangkat jadi PNS, saya malah menganggapnya sebagai sebuah keajaiban dunia yang kesekian juta. Bagaimana tidak ajaib kalau selama menjadi tenaga honorer, sepupu saya itu lebih banyak bolosnya daripada bekerja!

Sudahlah mengenai sepupu saya tersebut. Saya hanya memberi gambaran bagaimana sesuatu yang mudah diperoleh justru dapat melenakan. Jujur, saya sendiri lebih senang kalau biaya workshop itu murah meriah. Tapi masalahnya kembali pada diri kita sendiri, apakah kita akan serius mengikuti workshop atau pendidikan lain dalam bidang apapun?

Jawaban pertanyaan ini saya dapatkan saya menjadi pengajar privat untuk murid SD, SMP dan SMU semasa kuliah dulu, kurang lebih delapan atau sembilan tahun lalu. Dasar anak-anak, mentang-mentang gurunya yang datang untuk mengajar, pada kali pertama pertemuan saya dengan mereka, mereka malas-malasan belajar. Mereka menjadi lebih serius setelah saya 'unjuk taring' dengan 'memaksa' mereka ikut membahas soal-soal fisika dan matematika dari buku teks. Jangan main-main ya dengan ibu guru gendut ini! :D

Intinya sobat, apa pun yang kita peroleh dengan mudah, bisa jadi bumerang buat kita jika kita tidak menyikapinya dengan bijaksana. Saya pernah ikut 'workshop' penulisan skenario gratisan dari sebuah PH yang katanya mau mencari anggota tim kreatif. Dengan modal pengalaman menulis 40-50 an cerpen anak dan remaja di harian lokal di kota tempat saya kuliah, saya pede sekaligus senang-senang saja dengan 'workshop' tersebut. Meskipun untuk mencapai kantor PH bersangkutan, saya harus jumpalitan selama hampir dua minggu naik turun angkutan umum selama lebih dari dua jam. Pulangnya juga begitu, menghabiskan waktu sangat lama.

Capek dan menghabiskan ongkos jalan dan makan, tapi saya bertahan karena berharap mendapatkan ilmu dan semoga juga, diterima menjadi anggota tim kreatif. Selama seminggu lebih, saya dan peserta lain dibuat hampir bosan dengan tugas yang melulu membuat sinopsis dari puluhan episode sinetron seri yang ditulis PH bersangkutan tanpa ada kejelasan, apakah kami diterima atau tidak, dan yang tak kalah penting, apakah kami jadi diajari cara menyusun skenario atau tidak. Akhirnya kami menyerah karena berbagai alasan. Saya sendiri menyerah karena sudah tak punya uang lagi untuk ongkos jalan (jujur-sejujur-jujurnya, nih!). Sementara tidak ada penghasilan karena selama mengikuti workshop, saya tidak bisa bekerja (pekerjaan saya waktu itu? Ada, deh...) karena workshop berlangsung seharian dan ditutup dengan acara 'nonton bareng' sinetron seri yang ditulis PH tersebut, di dua stasun TV swasta nasional.

Waktu itu saya sempat kesal karena sudah bersusah payah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan uang, namun tak mendapatkan apa yang diharapkan, yakni ilmu penulisan skenario yang mumpuni. Namun setelah saya pikir-pikir lagi, bukankah ilmu itu sudah saya dapatkan setiap kali saya menyimak dan merangkum isi skenario sekian puluh episode tersebut? Daripada mendengarkan materi dari pengajar sampai kuping tebal tapi tidak juga mengerti, bukankah lebih baik kita belajar sendiri dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita? Saya memang tipe orang yang dalam belajar agak lamban tapi begitu saya memahami sesuatu, saya tidak akan melupakannya sampai mati. Lebih baik saya belajar sendiri tanpa gangguan dari orang lain daripada belajar ramai-ramai, tapi malah susah 'masuk'-nya. Itu menurut saya, lho....

Walhasil, saya sekarang bersyukur pernah mengikuti 'workshop' tersebut meskipun sebelumnya sempat merasa dikerjai juga. Sampai sekarang saya tidak tahu, apa maksud PH bersangkutan tidak memberi kejelasan sekalipun kami sering bertanya mengenai tujuan 'workshop' tidak komersil tapi 'kurang jelas' tersebut. Saya malah berterima kasih, sudah diberi kesempatan membaca dan merangkum puluhan episode skenario sinetron seri yang tidak sembarang orang boleh melihatnya. Setelah bersusah payah dan sempat menyerah, akhirnya saya bisa mengambil hikmahnya juga.... Intinya, positive thinking saja, biar tidak merasa kecewa....

Maka, benarlah adanya, tiada yang gratis di dunia ini. Kalau mau mendapatkan sesuatu, termasuk ilmu, ya harus berkorban. Bisa korban uang, korban tenaga, korban waktu sampai korban pikiran plus makan hati. Sekalipun ada yang namanya sekolah gratis, murid-muridnya ternyata adalah 'korban' kemiskinan dan pemiskinan sehingga dapat dikatakan bahwa mereka memang sudah berkorban banyak sebelum dapat mengikuti pendidikan gratis tersebut.

Tapi, meskipun kurang setuju dengan alasan teman saya yang sebal terhadap pelatihan penulisan skenario bertarif mahal (untuk ukuran kami berdua, sih...), saya memberi usul : cari dan ikutilah workshop yang bertarif terjangkau, kalau perlu yang gratisan selama dia memang memenuhi syarat mengikuti pelatihan gratis tersebut. Bukankah dalam hidup ini, kita punya banyak pilihan? Mau makan pizza tapi tidak mampu membeli pizza buatan Pizza Hut atau Mazzaro (atau Mazzarno, sih? Saya lupa namanya), gampang. Banyak kok, penjual pizza di pinggir jalan yang menawarkan pizza dengan harga miring. Begitu juga dalam belajar menulis skenario, ada kok workshop dengan biaya tak sampai jutaan rupiah. Kalau mau tahu workshop murah tersebut, cari sendiri informasinya di internet, ya....

Yang jelas, setelah mendengarkan curhat (atau lebih tepat disebut kritik?) dari teman saya itu, kami jadi punya cita-cita yang mudah-mudahan mulia. Kami berjanji (insya Allah bisa ditepati), kalau besok-besok bisa jadi penulis skenario, kami akan membantu siapa saja yang ingin belajar menulis skenario dengan memberikan pelatihan yang 'ramah kantong atau dompet'. Kalau perlu, seperti kata Kinoysan (kira-kira, soalnya saya lupa bagaimana persisnya) dalam salah satu bukunya, sekalipun tidak dibayar, isi saja pelatihan. Karena dengan begitu, selain membagi ilmu dan mengasah kemampuan kita, kita bisa mendapatkan pahala. Amiiin....

Tapi ada satu masalah. Kami belum juga jadi penulis skenario. Jadi, bagaimana melatih orang lain kalau kemampuan kami belum terbukti?

Aduuuh, bahkan untuk berbuat baik pun, ada jalan terjal yang harus dilalui. Makanya, doakan dong, supaya saya dan teman saya bisa jadi penulis skenario ^_^ Tolong, ya....

Senin, 08 Juni 2009

BODOHNYA AKU.... TAPI TETAP DICONTEK JUGA

Baru beberapa minggu yang lalu saya mendengar istilah 'microblogging'. Saya sempat bingung, istilah apa lagi itu? Soalnya, waktu itu saya hanya tahu blog, bukan blog 'kecil'....

Belakangan saya baru tahu bahwa microblogging ekivalen dengan (misalnya) twitter, plurk dan bahkan facebook juga. Wah, kalau tiga nama itu sih, sudah saya ketahui sejak lama! Dari ketiga web terkenal itu, hanya fb yang saya ikuti. Sebab, selain memang yang (konon) paling dikenal di seluruh dunia, fb lumayan komplit juga. Tak usahlah saya jelaskan, 'komplit'-nya di mana, semua juga tahu....

Hehehe, memalukan! Masa' istilah microblogging saja baru dengar! Ke mana saja saya selama ini?

Tapi... saya berusaha menghibur diri bahwa jelek-jelek begini, apa yang saya tulis pernah dicontek juga oleh pihak lain yang jauh lebih 'besar' dan lebih 'kuat'. Sebab, baru-baru ini juga, belum sampai sebulan ini, saya menemukan bahwa sebuah situs informasi dunia hiburan yang cukup terkenal telah mengambil begitu saja, secara bulat-bulat, sebuah halaman di Wikipedia! Halaman tersebut adalah halaman mengenai seorang aktor muda yang melejit di awal tahun 2000an.

Oleh situs informasi dunia hiburan tersebut, halaman mengenai aktor tersebut di-copy paste menjadi halaman biografi aktor bersangkutan di situs mereka, tanpa di-edit satu kalimat pun! Parahnya, situs tersebut tidak mencantumkan sumbernya, yakni Wikipedia. Saya tidak tahu apakah situs tersebut sudah meminta izin dari Wikipedia atau memang karena Wikipedia adalah ensiklopedia hingga pengambilan informasi apa pun dari Wikipedia tidak memerlukan izin. Namun, yang pasti, saya sebalnya minta ampun.

Sebab, meskipun bukan saya yang membuat halaman mengenai aktor tersebut, saya tahu bahwa dalam beberapa bulan ini, saya adalah salah seorang yang rajin meng-update informasi terbaru mengenai sang aktor. Jadi, saya ikut punya andil dalam membangun halaman tersebut, dong. Saya tidak tahu apa pendapat mereka yang juga telah menulis di halaman Wikipedia tersebut, tetapi saya tetap saja jengkel. Walau pun informasi yang dimuat di halaman Wikipedia tersebut bersifat umum dan mungkin mudah ditemukan di mana-mana, saya tetap merasa bahwa orang di balik situs info hiburan tersebut adalah orang yang malas yang bisanya hanya mencontek buah kerja orang lain. Katanya situs informasi, tapi kok mencomot informasi yang disusun oleh pihak lain begitu saja tanpa mencantumkan sumbernya? Apa tidak malu?

Tapi, sudahlah, saya bisa bilang apa? Kalau mau dongkol, ya dongkol saja sendiri. Nasib, nasib.... Maunya membantu orang lain mendapatkan informasi, malah dikerjai seperti ini....

Minggu, 20 Juli 2008

SUSAHNYA MENGENYANGKAN PERUT RAKYAT INDONESIA SETIAP HARI

Ini pengalaman waktu kuliah dulu. Waktu itu, siang bolong saya main ke rumah teman yang kebetulan juga ngekos seperti saya. Teman saya itu tampak lesu dan kusut, membuat saya prihatin melihatnya.
"Kenapa ko?" tanya saya, "sudah mo ko makan?"
"Ko lihat ma kayak begini, masih tanya lagi. Kalo belum pa ketawa, artinya belum pa makan," jawabnya agak ketus.
Rupanya, teman saya itu belum makan karena tidak punya cukup uang untuk membeli lauk meskipun masih punya beras untuk ditanak. Sebagai teman yang baik, saya menyumbang untuk membeli telur dua butir. Kamipun menyantap makan siang dengan nikmat meskipun hanya ditemani lauk berupa telur dadar dari sebutir telur yang dibagi dua (satu telur lagi disimpan untuk makan malam).
Selesai makan, teman saya bersendawa (maaf kalau jorok). Dengan wajah cerah seolah baru saja menyantap setengah dari seluruh hidangan yang disediakan oleh resto buffet, ia berkata pada saya, "sudah ma makan, jadi ketawa ma."
Saya juga tersenyum. Ternyata, kebahagiaan seseorang bisa diperoleh hanya dari sebutir telur seharga beberapa ratus rupiah saja...
Kalau mengingat pengalaman unik itu, sekarang saya malah sering terheran-heran melihat betapa susahnya para (calon) pemimpin, baik di tingkat daerah maupun nasional, untuk meyakinkan rakyat agar mau memilih mereka. Janji-janji diumbar dan jargon-jargon politik (yang sebagian basa-basi), silih berganti ditayangkan di berbagai tempat dan media, baik berupa spanduk dan baliho hingga televisi dan bioskop. Janji-janji tingkat tinggi yang sulit diwujudkan oleh para pemimpin (yang seharusnya juga) tingkat tinggi tersebut.
Serumit itukah untuk menjadi pemimpin di Indonesia?
Kalau menengok pengalaman saya di atas, sebenarnya tidak. Jadi pemimpin di Indonesia itu sebenarnya tidak susah-susah amat. Sebab, rakyat hanya punya keinginan sederhana : hanya ingin kenyang setiap hari.
Kenyang setiap hari. Cukup. Itu saja. Asalkan perut kenyang, rakyat tidak akan protes dan "melawan" dengan cara menjadi golput (perlawanan paling menakutkan!). Asalkan kehidupan rakyat berlangsung dengan lancar, aman dan tenteram, tidak ada lagi yang mereka inginkan. Buktinya, sampai kini masih banyak yang merasa bahwa kehidupan di masa Orde Baru jauh lebih baik (karena mereka tidak menyadari betapa besarnya beban yang mereka harus tanggung akibat kebobrokan era tersebut) daripada di masa era Reformasi ini.
Masalahnya ya itu tadi. Kenapa susah sekali?
Toh Tanah Air kita ini kuaya ruaya, bahkan konon yang paling kaya sedunia. Jadi tidak perlu janji "pendidikan gratis" dan "pelayanan kesehatan gratis" segala. Dengan kekayaan alam kita, setiap warga negara Indonesia seharusnya enteng saja menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah mana saja yang mereka mau. Kita juga bisa general check-up di Singapura sesuka kita karena punya banyak uang dari hasil PEMANFAATAN KEKAYAAN ALAM INDONESIA UNTUK KEMASLAHATAN RAKYAT INDONESIA.
Jadi, bukan janji menggratiskan biaya pendidikan (bagaimana caranya, sementara kekayaan alam kita dikeruk oleh pihak asing dan koruptor yang tak tahu malu tapi mengaku dari Indonesia?) yang diperlukan. Setuju dengan Sandra Angelia, Miss Indonesia 2008 yang mengaku akan menegakkan hukum dengan setegak-tegaknya bila dia diberi kesempatan memimpin negara ini. Kalau Amanat UUD '45 sudah dijalankan dengan semestinya, insya Allah kemiskinan akan berkurang drastis. Nah, setelah itu, barulah kita bisa ngomong ini-itu dan melakukan banyak hal, seperti meningkatkan lagi prestasi olahraga kita yang sudah sampai pada taraf "memalukan" (masa' sepakbola kita kalah dari Vietnam yang negara "baru" itu?).
Tapi sekali lagi, sebelum bermimpi macam-macam, seorang (calon) pemimpin di Indonesia harus mengajukan formula yang tepat untuk mengenyangkan perut rakyatnya setiap hari. Caranya tidak susah-susah amat, manfaatkan saja sebesar-besarnya kekayaan Indonesia untuk kesejahteraan rakyatnya. Untuk itu, kita harus merampas lagi apa yang sudah dirampas dari kita melalui penegakan hukum yang tidak pandang bulu dan tidak tebang pilih seperti saat ini.
Sederhana. Langkah sederhana yang akan menyelesaikan dan mengatasi kerumitan yang ada saat ini.
Tapi pertanyaannya, sekali lagi, mengapa susah sekali mengenyangkan perut rakyat Indonesia padahal kita berada di "kolam susu di mana kail dan galah sudah cukup untuk menghidupi kita karena ikan dan udang yang justru menghampiri kita"?

Sabtu, 07 Juni 2008

BBM, MAHASISWA, FPI DAN MACGYVER DARI MAKASSAR

Pagi tadi, Sabtu (7/6), rumah om saya didatangi oleh seorang bapak, seorang veteran. Alasan kedatangannya cukup menyedihkan bagi saya : untuk 'menjual' poster bergambar Bung Karno dan Bung Hatta. Karena kasihan, saya serahkan saja empat lembar uang ribuan yang sedianya buat ongkos naik ojek ke warnet terdekat. Posternya saya kembalikan, hanya menambah sampah kalau disimpan. Bapak itu menerima saja sambil mendoakan supaya om saya naik pangkat (padahal om saya bukan tentara meskipun kami menetap di dekat kompleks militer).
Apa?!

Sesulit itukah kehidupan sekarang hingga seorang pensiunan TNI sampai harus menjual poster murahan (murah dari segi harga dan kualitas cetakannya, bukan gambar tokohnya)? Terlepas dari apakah benar bapak itu veteran atau bukan, tetap saja saya prihatin melihat seseorang 'mengemis' (maaf, kalau pilihan kata ini kasar) secara terselubung seperti ini. Mirip pengamen bersuara cempreng (yang sama sekali tidak menghibur) yang mengharap recehan.
Kelihatannya, setelah harga BBM naik, akan semakin banyak 'pengemis' semacam ini yang berkedok sebagai 'penjual'. Baik 'penjual' suara seperti pengamen maupun 'penjual' poster seperti bapak tadi. Karena tampaknya akan semakin banyak pula pengangguran yang akan menjadi saingan saya dalam mencari kerja (ya, saat ini saya memang menganggur setelah tiga kali terpaksa berhenti bekerja), saya pun jadi terpikir untuk ikut-ikutan pengamen. Lumayan, ngejreng-ngejreng dengan vokal fals, bisa dapat gopek. Kalau dalam sehari ada 30 orang yang memberi gopek, sebulan sudah dapat 1,5 kali dana BLT untuk 3 bulan. Lumayan... banyak.
Tapi... tidak, ah. Saya berjanji, tidak akan mengemis. Cukup orang lain. Saya jangan menambah kesusahan masyarakat dengan ikut-ikutan mengemis. Status pengangguran lebih dari cukup untuk membuat saya kehilangan muka. Tidak perlu ditambah dengan meminta-minta. Asalkan masih bisa makan dan punya uang sedikit untuk mengirimkan lamaran kerja, saya sudah cukup puas. Untuk saat ini, entah nanti...
Padahal, kalau dipikir-pikir, sebenarnya mencari uang di Indonesia tidak sulit-sulit amat. Karena di negeri ini yang salah dipertahankan dan yang benar disingkirkan, kita sebenarnya bisa mendapatkan segalanya asalkan mau 'mengotori' tangan. Kalau mau cari dana tanpa mengemis, sebenarnya gampang, kok. Asal nekad saja, jangan pakai otak, tapi pakai otot...
Caranya?
Berbuat anarkis, memaksakan kehendak dengan menyerang pihak lain (yang mungkin juga tidak sepenuhnya benar) dengan alasan membela agama (isu yang bisa membuat kita jadi super 'sensitif'), ditangkap polisi, lalu mendapatkan simpati dari pihak-pihak yang juga merasa anarkisme itu benar selama dalam konteks membela agama. Kemudian... zapp! Uang jutaan rupiah terkumpul untuk membantu mereka yang suka memaksakan kehendak tersebut.
Sumpah, kemarin waktu menonton TV, saya tidak habis pikir, kok ada sebagian masyarakat yang mau mendonasikan sebagian uangnya untuk membantu Front Pembela Islam (FPI)? Memang sih, itu hak mereka dalam menggunakan uangnya. Tapi yang membuat saya heran, kok FPI mereka bantu seperti itu sementara saat mahasiswa dan pihak-pihak lain yang menolak kenaikan BBM dituding anarkis bahkan 'kriminal', mereka diam saja? Baik mahasiswa (setahu saya, mahasiswa hanya melawan polisi, bukan menyakiti secara fisik masyarakat yang tak berdaya) maupun FPI (yang jelas-jelas memukuli orang sipil hingga tak berdaya), sama anarkis-nya. Mahasiswa membela kepentingan masyarakat luas (anti BBM naik harga) seperti halnya FPI 'membela' kepentingan masyarakat, terutama masyarakat Islam (padahal Allah sudah menjamin bahwa Islam akan tetap ada di muka bumi). Sama saja, 'kan?
Tapi kenapa perhatian dan perlakuan yang mahasiswa dan FPI terima, berbeda satu sama lain?
Seandainya saya punya uang dan memang ada pihak yang mau memfasilitasi, saya mau kok, menyumbang untuk mahasiswa yang dituduh anarkis itu. Yah, paling-paling menyumbang air mineral selama mereka berdemonstrasi. Sayangnya, saya hanya pengangguran. Saya hanya bisa berdoa, semoga sebentar lagi, masyarakat tergerak hatinya untuk ikut mendukung mahasiswa, kalau perlu menyumbang makanan dan minuman seperti sepuluh tahun lalu saat mahasiswa dari generasi saya (saya sempat berdemonstrasi menuntut penurunan rezim Orde Baru di Makassar, meskipun saat itu hanya 'anak bawang') berdemonstrasi.
Gemas melihat orang-orang mengumpulkan uang lebih dari 5 juta rupiah untuk membantu FPI. Sekali lagi, saya tahu, itu hak mereka. Tapi bukankah tindakan itu seolah membenarkan tudingan bahwa Islam memang lekat dengan kekerasan, mendukung pelaku kekerasan?
Padahal, dengan uang sejumlah itu, para mahasiswa Unhas Makassar (almamater saya!) dapat membuat robot-robot yang berguna bagi masyarakat (Kompas Sabtu, 7 Juni 2008). Dalam artikel berjudul MACGYVER DARI MAKASSAR, disebutkan bahwa Syamsuar dan kawan-kawan, mahasiswa Teknik Mesin, sempat kekurangan dana untuk penelitian mereka. Dengan fasilitas laboratorium yang jauh dari lengkap, mereka berhasil mengembangkan robot pemadam kebakaran, pengangkut sampah, pengecat, line follower dan yang terbaru, mengerjakan robot penjinak bom bekerja sama dengan Departemen Pertahanan. Dana 4-6 juta rupiah dibutuhkan untuk membeli bahan untuk menghasilkan robot. Dana yang jumlahnya hampir sama dengan dana yang terkumpul untuk membantu FPI.
Saya juga jadi ingat, beberapa tahun lalu, di harian yang sama, diberitakan mengenai lomba bagi penemuan-penemuan sederhana yang berguna bagi masyarakat yang diadakan di NTB. Kalau tak salah, ada penemuan sederhana berharga ratusan ribu rupiah yang sangat berguna dalam bidang perikanan. Dengan uang 5 juta rupiah, kita sudah dapat memperoleh sekian unit peralatan sederhana tersebut yang tentunya akan sangat berguna bagi masyarakat banyak.
Sekali lagi, saya tidak mengecam, apalagi melarang orang untuk membantu FPI (siapa sih, saya?) karena itu hak masing-masing. Saya hanya mau berandai-andai, seandainya masyarakat mau membantu pengembangan iptek seperti membantu FPI, bayangkan manfaat yang dapat kita peroleh. Jangan bilang, membantu pengembangan iptek bukan tugas kita. Toh membantu pelaku anarkisme juga bukan tugas kita. Jadi, kalau kita mau berkorban untuk membantu FPI, mengapa kita tidak turut membantu manusia-manusia Indonesia kreatif seperti mahasiswa di Makassar dan masyarakat NTB? Toh karya mereka sudah terbukti ampuh, tidak seperti blue energy yang belum terbukti kebenarannya.
Atau, gampangnya, dengan uang sejumlah 5 juta rupiah, segelintir anak yatim piatu dan miskin sudah bisa makan lebih layak dan bersekolah. Uang sejumlah itu juga sudah sangat-sangat membantu fakir miskin dan menimbulkan senyum di panti jompo. Atau setidaknya membantu seorang veteran meski hanya beberapa lama hingga tak perlu lagi 'mengemis'.
Masih banyak orang di sekitar kita yang perlu (dan lebih pantas) dibantu.
Terserah kalau tulisan ini dianggap mendukung Ahmadiyah dan AKKBB. Saya bukan simpatisan mereka dan tak menutup mata bahwa mereka mungkin punya 'dosa' (AKKBB menggelar aksi tanpa seizin aparat kepolisian) juga. Namun, mengapa harus memerangi perbuatan 'dosa' dengan melakukan 'dosa' lain? Dan mengapa mendukung para pelaku anarkisme (sekalipun mengatasnamakan agama) layaknya pahlawan? Mengapa tidak mendukung mereka, para korban ketidakadilan dan kemiskinan yang mencoba bertahan hidup dan memberi sumbangsih bagi Tanah Air?
Ya, mengapa?